Reopening & Kisah Sepanci Kolak

Sudah lama saya hibernasi dari dunia persilatan blog. Ini lagi kepengen nulis lagi. Jadilah saya login ke blog lama saya, beberes, sapu bersih, tukar theme, dan inilah dia: Blog lama rasa baru saya. Reopening. Hello world.

*******************************************

Tadi saya ke Pasar Geylang Serai. Misi utama membeli telur, karena di rumah kami kedudukan telur sangat penting dan stoknya harus diupayakan tetap stabil. Selain telur, beli buah. Dan sayur. Dan ikan atau ayam atau tempe untuk stok lauk. Ehh kok jadi banyak ya. Harap maklum, di Singapura tidak ada Tukang Sayur Keliling seperti di Jakarta atau kedai sampah seperti di Medan. Kebiasaan ibu-ibu di sini kalau pergi ke Pasar Geylang, usahakan belanja perbekalan untuk seminggu. Nanti di rumah simpan di kulkas atau freezer.

Pasar Geylang sangat ramai. Entahlah apakah ada hubungannya dengan bulan puasa atau tidak. Saya kalau di tengah keramaian begitu entah kenapa bisa tiba-tiba gagal fokus. Lupa mau beli apa saja supaya sinkron dengan rencana masaknya. Belanja jadi sekenanya, yang penting bisa lekas keluar dan pulang.

Tengah berdesakan antri jalan melewati lorong yang kanan kirinya pedagang-pedagang sayur dan buah, saya melihat ada pisang ambon dijual 1 SGD per longgok. Tiba-tiba saya jadi kepengen makan barongko. Sudah lama tidak makan barongko. Berbuka dengan barongko yang manis dingin segar… nyumm enaknya…

Bolehlah. Saya ingat-ingat bahan lain yang diperlukan. Beli kelapa di pakcik penjual kelapa. Daun pisang di penjual sayur. Sekalian daun pandan. Susu Kental Manis masih ada di rumah. Jangan lupa beli telur sesuai rencana di aunty penjual telur.

Apalagi? Ohya, saringan santan masih ketinggalan di rumah Vita.

Tak apalah, saya menyeberang ke Joo Chiat Complex untuk beli saringan santan di households shop di pojokan yang menghadap pertigaan Joo Chiat Rd. Sebenarnya malas belanja ke situ, penjualnya kurang ramah. Tapi kedainya lengkap, dan kedua tangan saya sudah pegal menenteng tas-tas plastik belanjaan.

Dapat saringannya, akhirnya saya bisa pulang.

Sampai di rumah, saya pun beberes belanjaan. Dan memutuskan untuk langsung masak mumpung kedengarannya si kecil masih anteng dijaga abangnya di kamar.

Saat itulah saya baru ingat. Barongko mesti dikukus.

Saya lupa bahwa saya tidak punya dandang.

Demikianlah kisah sepanci kolak ini.

 

IMG_2885

Perihal kartu lebaran di photo, next posting ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s